3 Hal Ini Jadi Fokus Bahasan di Rakor Pengembangan Destinasi Area Sumatera III dan IV

BANDAR LAMPUNG – Provinsi Lampung sangat istimewa di mata Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenpar Dadang Rizki Ratman. Saking istimewanya, “panglima tertinggi pariwisata” di Divisi Pengembangan Destinasi ikut turun gunung menghadiri Rakor Pemberian Dukungan Pengembangan Destinasi Area Sumatera III dan IV di Swiss Bell Hotel, Lampung, Jumat (8/2).

Semua “jenderal’ terkait ikut diboyong ke Lampung. Dari mulai Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regional 1, Lokot Ahmad Enda, Kepala Bidang Destinasi Area IV Hendri Karnoza, hingga Ketua Tim Percepatan Wisata Perkotaan dan Perdesaan Vitria Ariani, ada di lokasi acara.

Belum lagi perwakilan Tim Percepatan Wisata Kuliner dan Belanja, Percepatan 10 Destinasi Kuliner, Percepatan Wisata Halal, hingga Percepatan Wisata Sejarah Religi dan Budaya. Sementara tuan rumah Lampung diwakili Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Lamping, Taufik Hidayat.

Rakor Pengembangan Destinasi Area Sumatera III dan IV - Lampung - 1

Rakor Pengembangan Destinasi Area Sumatera III dan IV di Bandar Lampung, Jumat (8/2/2019)

Semua stand by mendampingi sekitar 160 peserta dari Dinas Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota asal Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu serta Lampung.

“Alhamdulillah semua pengambil keputusan hadir. Selain government, ada unsur bisnis dan media yang ikut kami undang. Pembekalan di Rakor Area Sumatera III dan IV jadi efektif,” tutur Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenpar Dadang Rizki Ratman, Jumat (8/2).

Lantas apa yang dipaparkan Dadang di Rakor kali ini? Poin-poin penting yang di-sounding ke banyak “jenderal” di korps yang berbeda-beda?

“Poin utamanya ada tiga. Pertama, kenali pelangganmu, kenali dirimu, maka kamu akan mendapatkan wisatawan,” beber Dadang.

Maksudnya jelas. Seluruh tamu undangan diajak untuk mempelajari profil costumer mereka secara demografis, psikografis, dan perilakunya.

“Kita harus tahu preferensi mereka saat berwisata. Misalnya ke Lampung, Bengkulu, Jambi atau Sumatera Selatan. Ingat, jika kita tidak berubah mengikuti selera konsumen, kita pasti akan mati,” tambahnya.

Nomor duanya pelaku usaha. “Di destinasi itu memang ada Dana Alokasi Khusu (DAK). Tapi jangan jadikan sumber penghasilan satu-satunya. Kita perlu merangkul pelaku usaha. Dorong pelaku usaha untuk berinvestasi supaya ekonomi cepat bergerak,” bebernya.

Dan poin ketiganya adalah destinasi. Semua diarahkan untuk memperkuat 3A (atraksi, amenitas akses, Red). “Kalau kuat, destinasinya akan menjadi tempat kreatif, tempat berkumpul, berinteraksi yang melahirkan apa saja. Itu bakal menjadi kekuatan baru yang ngetop karena selalu menggerakkan 3F (Friends, Followers, dan Fans) wisatawan. Ini sekaligus menciptakan peluang, dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ucapnya.

Tone Menpar Arief Yahya pun terdengar sama. Pesannya hanya satu. Semua harus digerakkan dengan spirit Indonesia Incorporated. Bangsa Indonesia harus bersatu, mensinergikan kekuatan, memperkuat semua lini.

“Kalau ingin maju, kita harus kompak, solid, dan maju serentak. Kalau kita bersinergi, tidak ada yang bisa mengalahkan Pariwisata Indonesia,” katanya.

Standarnya pun harus global, tidak lagi terkotak-kotak oleh birokrasi yang sempit, dan membelit kepentingan yang lebih jauh.

“Memajukan Pariwisata sama dengan memajukan perekonomian bangsa ini. Karena pariwisata adalah penyumbang PDB, Devisa dan Lapangan Kerja yang paling mudah dan murah,” kata Arief Yahya. (*)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *